Berita Aktual

Mengenal Beberapa Tanaman yang Digunakan sebagai Antidiabetika

10 Juni 2005 09:00 WIB Dilihat 31157 Kali Umum

Diabetes Mellitus atau biasanya disingkat DM atau diabet, merupakan penyakit yang ditandai dengan keadaan hiperglikemik kronik, di mana kadar gula darah lebih tinggi dari normal. Karena dalam urine penderita kadar gulanya juga lebih tinggi dari normal, maka istilah populer dalam masyarakat adalah penyakit “kencing manis”. Keadaan ini berhubungan dengan terjadinya metabolisme karbohidrat, lemak dan protein yang tidak normal dalam tubuh, serta adanya gangguan hormonal seperti insulin, glikagon, kortisol dan hormon pertumbuhan.

Berapakah kadar gula darah yang normal ?

Kadar gula darah biasanya diukur dalam keadaan puasa (8-10 jam tidak makan/minum manis, hanya dibenarkan minum air putih saja) yaitu sekitar 70 - 120 mg/dl. Bila kadar gula darah lebih tinggi dari itu maka ada kemungkinan orang tersebut menderita diabet. Ada 2 macam DM atau diabet, yakni tipe I dan tipe II. Diabet tipe I disebut juga Insulin Dependent Diabetes Mellitus (IDDM), di mana penderita mengalami gangguan pada produksi hormon insulin oleh suatu bagian dari limpa. Hormon insulin ini membantu masuknya gula darah ke dalam sel. Akibat dari kurangnya hormon insulin yang beredar dalam darah adalah :

  • Gula darah tidak masuk ke dalam sel sehingga sel kekurangan zat gula. Zat gula dibutuhkan untuk dipecah menjadi energi / tenaga. Akibatnya penderita merasa lemas karena tenaga yang harus dihasilkannya kurang dari yang dibutuhkan.
  • Kadar gula darah tinggi karena gula darah tidak masuk/terserap ke dalam sel.
  • Waktu darah melalui ginjal, sebagian gula darah akan “bocor” ke air kencing/urin sehingga kadar gula dalam air kencing tinggi.
Penderita diabet tipe I ini “harus” di bawah pengawasan dokter dan menggunakan insulin (disuntikkan) untuk membantu tubuh mengatur zat gula. Diabet tipe II disebut juga Non-Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM), di mana penderita tidak kekurangan insulin, tetapi ada resistensi dari sel otot maupun sel jaringan lemak untuk dimasuki gula darah. Dengan demikian kadar gula darah juga cukup tinggi, akibat dari :
  • Gula darah yang masuk ke dalam sel kurang dari yang seharusnya sehingga sel kekurangan zat gula yang merupakan sumber energi utama
  • Kadar gula darah tinggi karena gula darah kurang terserap ke dalam sel
  • Kadar gula dalam urine lebih tinggi dari normal karena sebagian zat gula “bocor” ke dalam urine.
Hasil penelitian mengungkapkan bahwa tipe I sekitar 10-20 %, sedangkan tipe II sekitar 80-90 % dari seluruh penderita diabet. Gejala Umum Pada Penderita Diabetes Melitus Umumnya penderita sering buang air kecil (poliuria), terutama pada malam hari, sering lapar (poligagia), lemas, dan berat badan menurun. Gejala yang lain adalah : gatal-gatal, kesemutan, luka yang tidak sembuh-sembuh, rasa baal, mata kabur, impotensi pada pria, pada wanita sering terjadi gatal-gatal pada vulva, keputihan, infeksi saluran kemih. Peranan Beberapa Tanaman Yang bermanfaat Untuk Membantu Menurunkan Kadar Glukosa Darah. Seperti kita ketahui Indonesia kaya akan sumber bahan obat alam, yang lebih dikenal dengan istilah Obat Asli Indonesia atau obat herbal, yang telah dimanfaatkan oleh masyarakat di Indonesia secara turun temurun. Budaya kembali ke alam atau lebih dikenal dengan istilah “ Back to Nature “ saat ini tengah menjadi trend di seluruh dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Hal ini terlihat sangat menonjol pada penggunaan bahan alam untuk tujuan membantu penyembuhan berbagai macam penyakit. Dalam rangka pemanfaatan penggunaan tanaman obat dan peningkatan pelayanan kesehatan masyarakat, maka beberapa tanaman obat perlu diperkenalkan kepada masyarakat. Pada kesempatan ini akan diuraikan beberapa tanaman yang digunakan oleh masyarakat sebagai antidiabet yaitu untuk membantu menurunkan kadar gula darah. Mekanisme Kerja
  1. Tanaman yang mempunyai kemampuan sebagai Astringen, dapat mempresipitasikan protein selaput lendir usus dan membentuk suatu lapisan yang melindungi usus, sehingga menghambat asupan glukosa dan laju peningkatan glukosa darah tidak terlalu tinggi.
  2. Beberapa tanaman yang termasuk dalam kelompok ini adalah : Alpukat (Persia Americana Mill.), Buncis (Pisum sativum L.), Jagung (Zea may L.), Jambu biji (Psidium guajava L.), Lamtoro atau Kemlandingan (Lecauna glauca sensu Bth.), Mahoni (Swietenia mahagoni Jacq. ), dan Salam (Eugenia polyantha Wight.). Pohon alpukat tumbuh membentuk tajuk yang berbentuk kubah dan merupakan pohon yang selamanya hijau, yang tingginya dapat sekitar 18 meter. Bunga alpukat kecil, berwarna hijau muda, dan mengelompok dalam panikel majemuk tandan. Sebatang pohon alpukat dapat menghasilkan jutaan bunga dalam satu musim berkembang, tetapi hanya 0,1% yang tumbuh menjadi buah yang dapat dipanen. Buah alpukat berbiji tunggal besar. Biji dikelilingi daging buah yang tebal dan kulit buah biasanya tebal, bervariasi menurut varietas. Bentuk dan ukuran berbeda, tetapi buah alpukat pada umumnya bentuknya seperti pear atau bulat. Warna buah alpukat juga bergantung pada varietasnya, sehingga terdapat buah alpukat yang berwarna hijau-kuning, kepekatan hijau, ungu, coklat, sampai hampir hitam pekat. Bagian tanaman yang digunakan untuk pengobatan DM adalah biji, buah dan daunnya. Buncis adalah salah satu jenis sayuran yang sudah dikenal oleh masyarakat sejak berabad-abad lamanya. Kata buncis berasal dari bahasa Belanda “boontjes”. Buncis pertama kali dikenal oleh bangsa Aztek. Orang Spanyol mengenal buncis ketika mereka menduduki wilayah Amerika Selatan, kemudian membawa biji buncis ini ke Eropa, dari Eropa orang Belanda membawanya ke Indonesia. Buncis sangat baik bagi mereka yang harus menjaga pemasukan kalori, karena setiap 100 gr buncis hanya mempunyai 33 gr kalori. Buncis juga mengandung banyak protein dan serat dan juga berlemak rendah. Sayuran ini juga mengandung banyak vitamin dan mineral penting seperti asam folat, besi, potasium (kalium) dan seng. Bagian tanaman yang digunakan untuk menurunkan glukosa darah pada penderita DM adalah buahnya. Hasil Penelitian yang telah dilakukan oleh Andayani (Universitas Mataram) pada tahun 2000 menunjukkan bahwa efek hipoglikemik pada kelinci diabetes yang diinduksi aloksan menunjukkan bahwa ekstrak kasar buncis mampu menurunkan kadar glukosa darah sampai 30%. Siapa yang tak kenal dengan tanaman Jambu biji, tanaman dengan nama latin Psidium guajava L., adalah salah satu tanaman buah jenis perdu, dalam bahasa Inggris disebut Lamba guava. Jambu biji berasal dari Brazilia Amerika Tengah, menyebar ke Thailand kemudian ke negara Asia lainnya seperti Indonesia. Hingga saat ini telah dibudidayakan dan menyebar luas di daerah-daerah Jawa. Jambu biji sering disebut juga jambu klutuk, jambu siki, atau jambu batu. Sebagai makanan, buah segar maupun olahan mempunyai gizi yang mengandung vitamin A dan vitamin C yang tinggi, dengan kadar gula 8%. Jambu biji mempunyai rasa dan aroma yang khas disebabkan oleh senyawa eugenol. Bagian tanaman yang digunakan oleh masyarakat untuk pengobatan DM adalah daun dan buahnya.
  3. Mekanisme ke 2 yaitu dengan cara mempercepat keluarnya glukosa dari sirkulasi, dengan cara mempercepat peredaran darah yang erat kaitannya dengan kerja jantung dan dengan cara mempercepat filtrasi dan ekskresi ginjal sehingga produksi urin meningkat jadi sebagai diuretika. Karena laju ekskresi glukosa melalui ginjal meningkat, ini akan menyebabkan kadar glukosa dalam darah menurun.
  4. Beberapa tanaman yang termasuk dalam kelompok ini adalah : Bawang putih (Allium sativum L.), Daun sendok (Plantago mayor L. ), Duwet atau jamblang (Eugenia cumini L.), Keji beling (Strobilanthus crispus L), Kumis kucing (Orthosiphon aristatus L.), Labu parang (Cucurbita moschata L.). Bawang putih dengan nama latin Allium sativum L. termasuk dalam familia Liliaceae. Merupakan salah satu jenis tumbuhan yang tidak asing lagi dalam kehidupan sehari-hari. Di samping kegunaannya sebagai bumbu dapur yang dapat melezatkan makanan, ternyata umbi lapis bawang putih memiliki khasiat medik yang cukup besar dalam pengobatan tradisional. Bawang putih diduga berasal dari Asia. Berupa herba semusim, tinggi 50 – 60 cm, batang semu, beralur, warna hijau. Daun pipih, berwarna hijau. Umbi lapis bawang putih merupakan umbi majemuk berbentuk hampir bundar yang memiliki garis tengah 4-6 cm. Umbi tersebut biasanya terdiri atas 8-20 siung bawang putih yang seluruhnya diliputi oleh tiga sampai lima selaput tipis seperti kertas berwarna putih, umumnya tiap siung diselubungi oleh dua selaput seperti kertas. Selaput luar berwarna agak putih dan agak longgar sedangkan selaput dalamnya menempel dan memiliki penampakan yang transparan. Bawang putih memiliki bau khas aromatik yang tajam, rasa agak pedas yang lama-kelamaan dapat menimbulkan rasa agak tebal di bibir. Bagian tanaman yang digunakan adalah umbinya. Daun sendok dengan nama latin Plantago mayor L. berupa tumbuhan liar, banyak tumbuh di ladang, hutan, kadang-kadang terlihat dipinggir jalan. Tumbuhan berasal dari Asia dan Eropa, dan sekarang telah menyebar diseluruh dunia. Herba tegak, 15 – 20 cm. Daun tunggal, bertangkai panjang, tersusun dalam roset akar. Bentuk daun bundar telur sampai lanset melebar, tepi rata atau bergerigi kasar, tidak teratur, permukaan licin atau sedikit berambut, panjang 5 - 10 cm, lebar 4 – 9 cm, warna hijau. Bunga majemuk tersusun dalam bulir yang panjang 30 cm, kecil-kecil, warna putih. Bagian tanaman yang digunakan untuk menurunkan kadar glukosa darah adalah herbanya. Tanaman dengan nama latin Orthosiphon spicatus B.B.S yang dikenal di Indonesia dengan nama Kumis kucing, merupakan tanaman obat berupa tumbuhan berbatang basah yang tegak. Tanaman ini dikenal dengan berbagai istilah seperti: kidney tea plants/java tea (Inggris), giri-giri marah (Sumatera), remujung (Jawa Tengah dan Jawa Timur) dan songot koneng (Madura). Tanaman Kumis kucing berasal dari wilayah Afrika tropis, kemudian menyebar ke wilayah Asia dan Australia. Kandungan Kimia Daun pada saat tanaman mulai keluar kuncup bunganya mengandung mineral, flavonoid glikosida turunan dari asam kafeat, inositol, fitosterol, saponin dan minyak atsiri. Daun kumis kucing basah maupun kering digunakan sebagai bahan obat-obatan. Di Indonesia daun yang kering (simplisia) dipakai sebagai obat yang memperlancar pengeluaran air kemih (diuretik), untuk tujuan menurunkan glukosa darah atau untuk pengobatan alternatif pada penderita DM.
  5. Mempercepat keluarnya glukosa melalui peningkatan metabolisme atau memasukan- nya ke dalam deposit lemak.
  6. Proses ini melibatkan pankreas untuk memproduksi insulin.
    Beberapa tanaman yang banyak diteliti antara lain adalah : Lidah buaya (Aloe vera L.), Brotowali (Tinospora crispa L.), Pare (Momordica charantia L.), Sambiloto (Andrographis paniculata Nees)
    Berdasarkan dokumen Mesir (Ebers Papyrus Document), tertulis berbagai kegunaan lidah buaya sebagai bahan obat dan pengobatan. Demikian pula, hampir semua dokumen sejarah obat alami di berbagai negara antara lain Cina, Yunani, Spanyol, dan Arab, mengungkapkan mengenai keunggulan lidah buaya atau yang dikenal dalam bahasa latin aloe vera tersebut. Tanaman lidah buaya dengan daun tebal berdaging, berair, dengan rasa pahit, berbentuk pedang panjang hingga 50 cm, pada pinggir daun berduri. Daun yang tebal dan berair dari tanaman ini untuk bertahan pada masa-masa kering. Bunga berwarna merah tua atau merah agak kekuningan. Kandungan Kimia

    Antrakinon, barbaloin, isobarbaloin, aloe emodin, aloenin, aloesin, hidroksialoin, acemanan, asam salisilat, saponin, sterol, triterpenoid, juga mineral K, Ca, Zn, Co, dan Cr, vitamin A, B6, B12, C, E, dsb. Di Indonesia, tanaman lidah buaya diduga masuk sekitar abad ke-17, yang pada mulanya hanya sebagai tanaman hias dalam pot dan penggunaannya hanya terbatas sebagai penyubur rambut, penyembuh luka, dan merawat kulit. Tanaman lidah buaya diketahui mempunyai banyak kegunaan seperti antiinflamasi, antijamur, antibakteri, dan regenerasi sel, juga dapat berfungsi untuk menurunkan kadar gula dalam darah pada penderita diabetes. Bagian tanaman yang digunakan untuk pengobatan DM adalah daunnya. Dewasa ini hampir semua orang mengenal Pare, tanaman ini dikenal dengan beberapa nama yaitu Balsam pear, Bitter melon atau Bitter gourd dan dengan nama latin Momordica charantia L., termasuk dalam familia Cucurbitaceae. Tempat asal tanaman Pare tidak diketahui dengan pasti. Tanaman ini banyak terdapat didaerah tropis baik liar maupun ditanam. Tanaman pare termasuk tanaman semusim, yang menjalar atau merambat. Batang tidak berkayu, mempunyai sulur-sulur yang membelit. Daun pare berbentuk menjari berwarna hijau, atau hijau kekuningan. Dari ketiak daun muncul bunga yang berwarna kuning. Buah pare berbentuk lonjong, dengan permukaan berbintil - bintil, didalamnya terdapat sejumlah biji.

Kandungan Kimia

Daunnya mengandung momordisin, momordin, karantin, asam trikosanik, resin, asam resinat, saponin, vitamin A, dan C serta minyak lemak yang terdiri dari asam oleat, asam linoleat, asam stearat dan L.oleostearat. buahnya mengandung karantin, hydroxytryptamine, vitamin A, B dan C. Per 100 gr bagian buah yang dapat dimakan mengandung 29 kal kalori; 1,1 gr protein; 0,3 gr lemak; 6,6 gr karbohidrat; 45 mg kalsium; 64 mg fosfor; 1,4 mg besi; 180 s.l. nilai vit A; 0,08 mg vit B1; 52 mg vit C dan 91,2 gr air. Biji mengandung momordisin. Bagian tanaman yang digunakan untuk pengobatan DM adalah buah dan bijinya. Sambiloto berupa tumbuhan liar yang tumbuh di kebun-kebun dan hutan. Berupa herba semusim, tinggi 50 – 90 cm, batang dengan banyak percabangan. Daun tunggal, bertangkai pendek, bentuk lanset, pangkal runcing, ujung meruncing, tepi rata, warna hijau, panjang 2 – 8 cm, lebar 1 – 3 cm. Pembungaan racemosa bercabang membentuk malai, keluar dari ujung batang atau ketiak daun. Bunga berbibir, bentuk tabung, kecil, warna putih bernoda ungu. Buah kapsul berbentuk jorong, panjang 1,5 cm, lebar 0,5 cm. Biji gepeng, kecil-kecil, warna coklat muda.

Hasil Penelitian

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Suryadhana (UNIKA Widya Mandala Surabaya) dengan menggunakan binatang percobaan tikus dinyatakan, bahwa ekstrak daun sambiloto dengan dosis 0,5 g/kg bb, 1 g/kg bb dan 1,5 g/kg bb dapat menghambat kenaikan kadar glukosa darah tikus normal. ( Dra. Sutarni Suryowinoto, MM)

Pustaka :
  1. Afifah, E, “ Diabetes Mellitus “, Disampaikan Pada Acara Pelatihan Tanaman Obat Tradisional, 3 dan 4 Mei 2003
  2. Andayani,Y.,“Potensi Kandungan Kimiawi Ekstrak Kasar Buncis( Phaseolus vulgaris ) Sebagai Antidiabet “Disampaikan pada Kongres Nasional Obat Tradisional Indonesia (KONAS OTI), Prosiding Abstrak Sidang Pleno & Simposium Ilmiah, Surabaya, 2000
  3. Anonimous, “Buncis Naik Daun Dengan Kandungan Antioksidannya “ Satumed.com, satunet, Jumat 29 September 2000, Last up date 2003
  4. Anonimous, “ Diabetes Mellitus “ http: //www.view.vcu.edu/pat/, last up date 2003
  5. Dalimartha, S, “ Atlas Tumbuhan Obat Indonesia “, Jilid I, Trubus Agriwidya, Jakarta, 1999
  6. Duke, “Chemicals with Antidiabetic Activity”, Phy- tochemical and Ethnobotanical Databases
  7. http://www.ars-grin.gov/cgi-bin/duke/chemical_activity.pl
  8. Duke, “Plant Parts with Antidiabetic Activity from Allicin“, Phytochemical and Ethnobotanical Databases, http://www.ars-grin.gov/cgi-bin/duke/chemact.pl?
  9. Perry, L.M. “ Medicinal Plants of East and Souteast Asia “, The MIT Press, Cambridge, Massachusetts, and London, England, 1978
  10. Rahminiwati, M.; Iskandar, dan Y. Andayani, “ Tanaman Obat yang Mempunyai Peranan Dalam Mengatasi Diabetes Melitus “, Disampaikan Pada Acara Pelatihan Tanaman Obat Tradisional, 3 dan 4 Mei 2003
  11. Suryadhana, A., “ Pengaruh Ekstrak Daun Sambiloto (Andrographis paniculata Ness ) Secara Oral Terhadap Uji Toleransi Glukosa Darah Pada Tikus Putih “ Disampaikan pada Kongres Nasional Obat Tradisional Indonesia (KONAS OTI), Prosiding Abstrak Sidang Pleno & Simposium Ilmiah, Surabaya, 2000
  12. Van Steenis, C.G.G.J. “Flora“ Cetakan V, PT. Pradnya Paramita, Jakarta, 1988
  13. Zul, “ Lidah Buaya Sebagai Obat dan Minuman Segar”, Pikiran Rakyat Cyber Media, Minggu, 02 Maret 2003