Berita Aktual

Berbagai Jalan Menuju Ketersediaan Vaksin dan Obat untuk Penanganan COVID-19 di Indonesia

8 Oktober 2020 08:12 WIB Dilihat 855 Kali Humas & DSP

Jakarta – Pemerintah menargetkan vaksin untuk COVID-19 tersedia dan dapat diakses oleh masyarakat pada tahun 2021 mendatang. Hal tersebut disampaikan oleh Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19, Wiku Adisasmito saat jumpa pers terkait perkembangan penanganan COVID-19 pada hari Selasa (06/10).

 

Menurut Wiku, Pemerintah terus memastikan vaksin yang akan disuntikkan kepada masyarakat sudah melalui tahapan uji klinik dan dinyatakan aman. “Vaksin yang nantinya masuk ke Indonesia harus dipastikan secara data dan penelitian aman bagi masyarakat,” ujar Wiku.

 

Saat ini, Indonesia masih berproses dengan uji klinik fase III Vaksin Sinovac oleh PT. Bio Farma bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. Vaksin tersebut dikembangkan oleh Sinovac Life Science – Tiongkok menggunakan teknologi virus tidak aktif (inactivated virus). Uji klinik fase III telah dimulai sejak bulan Agustus lalu dan direncanakan melibatkan hingga total 1.620 sukarelawan di Bandung. Sejauh ini, tidak ada laporan kejadian efek samping dalam uji klinik vaksin tersebut.

 

Sebagai bagian dari Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional serta anggota Satgas Percepatan Penanganan COVID-19, Badan POM berupaya untuk melakukan percepatan akses obat dan vaksin yang digunakan dalam penanganan COVID-19. Dalam hal ini, Badan POM terus melakukan pengawalan di sepanjang pelaksanaan uji klinik vaksin. Mulai dari melakukan evaluasi terhadap protokol uji klinik sebelum uji dilaksanakan, memberikan Persetujuan Pelaksanaan Uji Klinik (PPUK), hingga melakukan inspeksi ke tempat penelitian untuk memastikan uji klinik berjalan sesuai dengan Cara Uji Klinik yang Baik (CUKB).

 

“Badan POM juga mengawal penyiapan produksi vaksin untuk memenuhi persyaratan mutu produk, yaitu melalui sertifikasi Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) terhadap sarana produksi bulk vaksin di China dan proses filling finished product di PT. Bio Farma,” jelas Kepala Badan POM RI, Penny K. Lukito.

 

Selain pengembangan Vaksin Sinovac, Indonesia melalui PT. Kimia Farma juga tengah bekerja sama dengan G42 Uni Emirat Arab untuk melakukan uji klinik fase III terhadap calon vaksin COVID-19. Juga melalui PT. Kalbe Farma bekerja sama dengan Genexine Korea tengah melakukan uji klinik fase I dan fase IIA di Korea, yang selanjutnya direncanakan akan melalui uji klinik fase II dan fase III di Indonesia. Di samping itu, Kementerian Riset dan Teknologi juga membentuk Konsorsium Pengembangan Vaksin Merah Putih yang bekerja sama dengan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman untuk secara mandiri mengembangkan vaksin menggunakan isolat virus dari pasien COVID-19 di Indonesia.

 

“Langkah-langkah pengembangan tersebut perlu dilakukan mengingat kebutuhan vaksin bagi masyarakat Indonesia berjumlah besar, sehingga perlu pencarian sumber-sumber vaksin lain yang memungkinkan,” tambah Kepala Badan POM.

 

Tidak hanya sisi preventif dari penanganan pandemi COVID-19 yang berangsur-angsur menunjukkan titik terang. Memasuki kuartal terakhir tahun 2020 ini juga telah disetujui beberapa obat yang terbukti melalui uji klinik menunjukkan kemanfaatannya dari sisi kuratif terhadap penyembuhan pasien COVID-19, yaitu Favipiravir dan Remdesivir.

 

Terhadap kedua obat tersebut, Badan POM telah menerbitkan izin penggunaan dalam kondisi darurat (Emergency Use Authorization/EUA) untuk mempercepat akses obat-obat tersebut sebagai pilihan dalam penanganan COVID-19 oleh tenaga medis. Favipiravir memperoleh EUA sejak 3 September 2020 dengan penggunaan untuk pasien derajat ringan dan sedang yang dirawat di rumah sakit. Sementara Remdesivir memperoleh EUA sejak 19 September 2020 dengan penggunaan untuk pasien derajat berat yang dirawat di rumah sakit.

 

Badan POM terus mengawasi penyaluran dan peredarannya sejak dari produksinya oleh industri farmasi, distribusinya oleh pedagang besar farmasi, hingga penggunannya di sarana pelayanan kefarmasian melalui evaluasi pelaporan realisasi importasi, produksi, dan distribusi obat yang disampaikan kepada Badan POM. Selain itu, Badan POM mewajibkan industri farmasi selaku pemilik EUA untuk menjamin mutu obat, melakukan uji klinik di Indonesia untuk memastikan khasiat dan keamanan obat, serta melakukan farmakovigilans melalui pemantauan dan pelaporan efek samping obat yang harus disampaikan kepada Badan POM.

 

Protokol Kesehatan Masih Menjadi Modal Utama Tekan Kasus COVID-19

Dalam update yang disampaikan oleh Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional Selasa lalu, disampaikan bahwa penanganan COVID-19 di 10 provinsi prioritas di Indonesia telah menunjukkan hasil yang lebih baik selama sepekan terakhir. Kesepuluh provinsi dimaksud ialah DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, Banten, dan Papua, dengan persentase kesembuhan tertinggi terlihat di Jawa Timur dengan angka 88,53%.

 

Dari sisi global, angka kesembuhan pasien COVID-19 di indonesia berada pada peringkat 19 dunia dari 216 negara, dengan jumlah kesembuhan 232.593 orang. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan per 6 Oktober 2020, jumlah kasus sembuh kumulatif Indonesia adalah 236.437 atau 76%, di mana kasus sembuh rata-rata dunia adalah 75,2%.

 

Sekalipun demikian, persentase kasus positif Indonesia hingga September lalu mencapai 16,11%. Angka ini tiga kali lebih besar dari standar yang ditetapkan World Health Organization (WHO). Angka ini harus terus ditekan, salah satunya dengan tetap menerapkan kedisiplinan terhadap protokol kesehatan di manapun berada. Selalu memakai masker, menjaga jarak dan menghindari kerumunan, rajin mencuci tangan dengan sabun, olahraga rutin, istirahat cukup, serta makan makanan sehat dan bergizi.

 

Masyarakat juga harus lebih berhati-hati dalam memilih, membeli, dan mengonsumsi produk Obat dan Makanan, termasuk bijak menyikapi banyaknya informasi penggunaan obat-obat herbal dengan klaim mencegah, mengobati atau menyembuhkan COVID-19. Selalu ingat Cek “KLIK” (Kemasan, Label, izin Edar dan Kedaluwarsa) sebelum membeli atau mengonsumsi produk Obat dan Makanan. Karena pencegahan merupakan kunci utama dalam memutus mata rantai penyebaran wabah COVID-19. (HM-Herma)

 

Biro Hubungan Masyarakat dan Dukungan Strategis Pimpinan