Berita Aktual

Presiden RI: Kita Mampu Mandiri untuk Kembangkan dan Produksi Vaksin

9 September 2020 15:53 WIB Dilihat 815 Kali Humas & DSP

Bogor – Rabu (09/09) Presiden RI Joko Widodo memanggil Menteri Riset dan Teknologi Bambang Brodjonegoro, Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir, Kepala Badan POM Penny K. Lukito, serta Prof. Ali Ghufron Mukti selaku Ketua Konsorsium Riset Inovasi Covid-19 dan Prof. Amin Soebandrio selaku Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman untuk menyampaikan laporan mengenai perkembangan pengembangan vaksin Merah Putih untuk masyarakat Indonesia.

 

Seperti kita ketahui, 3 September 2020 lalu Presiden membentuk Tim Nasional Percepatan Pengembangan vaksin Corona Virus Disease 2019 (COVID-19), yang disahkan melalui Keputusan Presiden RI No. 18 Tahun 2020. Tujuannya adalah untuk melakukan percepatan pengembangan vaksin COVID-19 di Indonesia. Selain itu, pembentukan tim ini diharapkan mampu mewujudkan ketahanan nasional dan kemandirian bangsa dalam pengembangan vaksin COVID-l9, dan meningkatkan sinergi penelitian, pengembangan, pengkajian, dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta invensi dan inovasi, produksi, distribusi, dan penggunaan dan/atau pemanfaatan vaksin COVID-19 antara pemerintah dengan kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi serta sumber daya ilmu pengetahuan dan teknologi dalam pengembangan vaksin COVID-l9. Tim yang dipimpin oleh Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional ini juga bertugas untuk melakukan penyiapan, pendayagunaan dan peningkatan kapasitas, serta kemampuan nasional dalam pengembangan vaksin COVID- 19.

 

Dalam pertemuan yang digelar di Istana Bogor hari ini, Presiden menekankan bahwa penemuan dan produksi vaksin COVID-19 ini sangat penting untuk dapat segera menangani krisis kesehatan maupun krisis ekonomi. Harapan besar disematkan untuk vaksin Merah Putih yang sedang dikembangkan Konsorsium Vaksin COVID-19 dengan Lembaga Eijkman sebagai lead. Pengembangan vaksin Merah Putih selain untuk mempercepat penanganan COVID-19 di Indonesia, juga untuk menunjukkan kemampuan dan kemandirian bangsa Indonesia untuk mengembangkan vaksin sendiri. "Kita mampu mandiri dengan vaksin yang kita kembangkan dan kita produksi sendiri," tegas Presiden.

 

Usai pertemuan dengan Presiden, Menteri Riset dan Teknologi memberikan keterangan terkait pengembangan vaksin Merah Putih. Bambang Brodjonegoro menyampaikan bahwa Presiden memberikan arahan agar tim nasional segera bergerak cepat, terutama untuk pengembangan bibit vaksin Merah Putih yang diteliti dan dikembangkan oleh Lembaga Biologi Molekuler Eijkman.

 

“Tadi kami melaporkan bahwa Lembaga Biologi Molekuler Eijkman telah memulai upaya pengembangan vaksin Merah Putih dengan platform protein rekombinan dan saat ini prosesnya telah mencapai 50%. Targetnya pada akhir tahun ini uji pada hewan sudah diselesaikan, sehingga awal tahun 2021 bibit vaksin bisa diserahkan kepada PT Biofarma untuk dilakukan formulasi, produksi dalam rangka uji klinis,” jelas Bambang. “Setelah uji klinis selesai, dan Badan POM menyatakan bahwa vaksin ini aman untuk digunakan dan terbukti mampu memberikan daya tangkal terhadap virus corona, maka akan dilakukan produksi dalam jumlah masal oleh PT Biofarma,” lanjutnya.

 

Lebih lanjut Menteri Riset dan Teknologi memaparkan bahwa diperkirakan pada triwulan keempat tahun 2021 vaksin Merah Putih dapat diproduksi dalam jumlah besar dan nantinya akan melengkapi vaksin COVID-19 yang awalnya akan didatangkan dari kerja sama dengan pihak luar. Selain PT Biofarma, tim nasional pengembangan vaksin juga akan mengajak beberapa perusahaan farmasi swasta untuk ikut memproduksi vaksin COVID-19. “Sejauh ini sudah ada perusahaan yang potensial. Namun mereka harus mendapatkan izin Badan POM terkait cara pembuatan vaksin yang baik, dan harus menyiapkan line of production khusus untuk vaksin COVID-19,” tambahnya. Dengan sinergi pemerintah dan pihak swasta ini diharapkan Indonesia mempunyai kemandirian dalam pengembangan dan penyediaan vaksin COVID-19.

 

Badan POM berkomitmen untuk mendukung penanganan COVID-19 dengan percepatan akses dan ketersediaan obat dan vaksin, pengawalan pengembangan obat dan vaksin, peningkatan pengawasan, pengawalan obat beredar memenuhi standar dan persyaratan keamanan, khasiat dan mutu produk, termasuk untuk obat dan vaksin yang digunakan pada pengobatan COVID-19 dalam rangka perlindungan kesehatan masyarakat di masa pandemi COVID-19.

 

Kepala Badan POM menegaskan bahwa Badan POM siap melakukan pendampingan teknis aspek regulatori dalam proses pengembangan vaksin COVID-19. Badan POM akan memberikan fasilitasi percepatan proses untuk pengembangan dan penelitian vaksin tersebut yaitu percepatan sertifikasi CPOB dengan clinical batch (produksi skala kecil untuk uji klinik) dalam waktu maksimal 7 Hari Kerja (HK), penerbitan Persetujuan Pelaksanaan Uji Klinik dalam waktu maksimal 4 HK, dan penerbitan Izin Penggunaan masa Pandemi dengan skema Emergency Use Authorization (EUA) dalam waktu maksimal 20 (dua puluh) Hari Kerja. (HM-Nelly)

 

Biro Hubungan Masyarakat dan Dukungan Strategis Pimpinan

 

Foto: Lukas - Biro Pers Sekretariat Presiden