Siaran Pers / Peringatan Publik

SIARAN PERS PENGEMBANGAN UMKM PULAU DEWATA LESTARIKAN WARISAN BUDAYA NUSANTARA

13 Mei 2018 10:38 WIB Dilihat 232 Kali Hukmas

 

SIARAN PERS

PENGEMBANGAN UMKM PULAU DEWATA

LESTARIKAN WARISAN BUDAYA NUSANTARA

 

 

Denpasar – Senin (07/05), BPOM RI meluncurkan program terpadu lintas kementerian/lembaga “Pengembangan UMKM Obat Tradisional, Kosmetik dan Pangan Berdaya Saing”. Kepala BPOM RI pada kesempatan tersebut menyampaikan bahwa Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) menempati posisi strategis untuk berkontribusi dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat dan perekonomian nasional sehingga perlu didukung, didampingi, dan difasilitasi sehingga mampu meningkatkan daya saing.

Sebagai bukti komitmen BPOM RI dalam mendukung UMKM Indonesia, Kepala BPOM RI beserta jajaran melakukan kunjungan kerja ke UMKM Kosmetik dan UMKM Pangan di Provinsi Bali untuk meninjau secara langsung proses produksi produk UMKM dan berdialog dengan UMKM membahas permasalahan dan solusi terkait UMKM. Mengapa Bali? Karena Bali merupakan salah satu destinasi wisata unggulan Indonesia menyimpan beragam kekayaan budaya. Di sini industri kosmetik berskala UMKM tengah tumbuh pesat mengembangkan produk kecantikan warisan budaya nusantara.

Berdasarkan data BPOM RI, setidaknya terdapat 32 (tiga puluh dua) industri kosmetik yang menotifikasikan sebanyak 1.675 (seribu enam ratus tujuh puluh lima) item produk kosmetik. Melihat potensi pasar kosmetik yang menjanjikan, BPOM RI berkomitmen mengawal industri terutama UMKM Kosmetik di Bali untuk semakin meningkatkan kualitas produknya. Berbagai upaya strategis terus dilakukan untuk mendorong pengembangan UMKM kosmetik berupa simplifikasi perizinan, serta bimbingan teknis notifikasi dan penerapan Cara Produksi Kosmetik yang Baik (CPKB). Apalagi Bali merupakan tujuan wisata utama di Indonesia, sehingga sangat tepat apabila pengembangannya adalah  Kosmetik Tematik seperti produk SPA yang terkenal di sini.

“Kunjungan kami ke Bali ini, selain untuk mengetahui perkembangan industri UMKM kosmetik di Bali, sebagai hasil upaya pembinaan yang telah dilakukan BPOM RI, juga untuk menginformasikan success story industri UMKM kosmetik di Bali dan mendapatkan masukan untuk penajaman strategi percepatan pengembangan industri UMKM kosmetika, khususnya di provinsi Bali”, ungkap Kepala BPOM RI Penny K. Lukito.        

Lebih lanjut Kepala BPOM RI menyampaikan industri kosmetik merupakan salah satu industri andalan nasional yang sangat berperan sebagai penggerak ekonomi, sehingga berbagai upaya terobosan akan terus ditingkatkan agar lebih dirasakan manfaatnya oleh UMKM Kosmetik. “Pemerintah akan memberikan pengawalan guna mewujudkan kemandirian dan peningkatan daya saing UMKM, seperti UMKM Kosmetik di Bali untuk mendukung pariwisata sekaligus menjadi komoditas ekspor,’’ tutur Penny K. Lukito.

Dalam kunjungan kerjanya, Kepala BPOM RI juga menggelar pertemuan dengan lintas sektor terkait untuk membahas upaya percepatan pengembangan UMKM kosmetik di Bali. Selain itu dilakukan penyerahan Sertifikat CPKB Secara Bertahap kepada beberapa industri UMKM kosmetik, peninjauan pelaksanaan registrasi, desk denah, bimbingan iklan dan penandaan kosmetik. BPOM RI terus memantau berbagai upaya yang telah dilakukan untuk mengetahui efektivitas pelaksanaan pemenuhan CPKB serta mempertajam strategi percepatan pengembangan UMKM kosmetik.

Tidak hanya UMKM kosmetik Bali yang menjadi perhatian BPOM RI. Pada kesempatan ini, Kepala BPOM RI juga menghadiri acara Sosialisasi Program Manajemen Risiko (PMR) yang dihadiri oleh perwakilan industri ikan dalam kaleng di Bali. PMR merupakan program BPOM RI untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitas pelaku usaha pangan dalam melakukan penjaminan keamanan, mutu dan gizi produknya secara mandiri serta kepatuhan terhadap peraturan dan perundangan yang berlaku.

Penny K. Lukito menjelaskan bahwa saat ini PMR diberlakukan secara wajib untuk Industri Formula Bayi, Formula Lanjutan dan Formula Pertumbuhan serta produk steril komersial, termasuk industri ikan dalam kaleng. Untuk selanjutnya, lingkup pemberlakuan PMR akan diperluas secara bertahap. “Saat ini sudah terdapat 28 (dua puluh delapan) industri yang sudah memiliki Piagam PMR, 6 (enam) diantaranya adalah industri ikan dalam kaleng”, terang Penny K. Lukito.

“Kami berharap pertemuan ini dapat memberikan motivasi dan apresiasi pada pelaku usaha ikan kaleng pasca kasus temuan cacing pada ikan makarel dalam kaleng. Selanjutnya, diharapkan pelaku usaha mampu melakukan self-regulatory assessment, antara lain dengan penerapan PMR, dan secara intensif berkomunikasi dengan BPOM RI jika terjadi hal-hal yang berpotensi terhadap keamanan pangan”, ajak Penny K. Lukito kepada peserta pertemuan sosialisasi.

Kepala BPOM RI mengimbau seluruh pelaku usaha untuk mematuhi segala peraturan perundang-undangan yang berlaku dengan menerapkan cara produksi yang baik dalam setiap proses produksi agar produk kosmetik dan pangan yang dihasilkan memenuhi keamanan, kualitas, dan manfaat.

Masyarakat juga diharapkan untuk lebih berhati-hati dalam memilih produk yang akan dikonsumsi. Jangan membeli atau mengonsumsi produk kosmetik yang tidak memiliki izin edar/nomor notifikasi. “Ingat selalu Cek KLIK, Cek Kemasan, Cek Label, Cek Izin edar, dan Cek Kedaluwarsa sebelum membeli atau mengonsumsi produk kosmetika”, tutup Kepala BPOM RI.

 

 

Informasi lebih lanjut hubungi:

Contact Center HALO BPOM di nomor telepon 1-500-533, SMS 0-8121-9999-533, email halobpom@pom.go.id, twitter @BPOM_RI, atau Unit Layanan Pengaduan Konsumen (ULPK) Balai Besar/Balai POM di seluruh Indonesia.