Jakarta – Kepala BPOM RI Taruna Ikrar terus mendorong penguatan kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy) di bidang pengawasan obat dan makanan. Salah satu upaya yang dilakukan untuk mendorong penguatan tersebut adalah melalui Forum Diseminasi Hasil Analisis Kebijakan Obat dan Makanan yang digelar pada Kamis (31/7/2025). Kegiatan yang dihadiri secara hybrid oleh pimpinan unit kerja dan kepala unit pelaksana teknis (UPT) ini bertujuan mendiseminasikan dan meningkatkan pemanfaatan hasil analisis kebijakan tahun 2024.
Forum Diseminasi (Fordis) Hasil Analisis Kebijakan Obat dan Makanan merupakan bagian dari rangkaian kegiatan strategis Kepala BPOM pada 31 Juli–1 Agustus 2025. Rangkaian kegiatan tersebut yaitu Bedah Buku Karya Kepala BPOM, Launching Peta Jalan Pengendalian Resistansi Antimikroba (AMR), Fordis (31 Juli 2025), serta Monitoring dan Evaluasi Kinerja dan Anggaran BPOM Semester I 2025 (1 Agustus 2025).
“Analisis kebijakan adalah fondasi utama terciptanya kebijakan yang berkualitas dan implementatif. Kebijakan yang baik bukan hanya dirancang, tetapi juga mampu memberi manfaat nyata dan optimal bagi masyarakat,” ujar Kepala BPOM, yang sekaligus mengapresiasi Pusat Analisis Kebijakan Obat dan Makanan (Pusakom) sebagai motor penggerak penghasil analisis kebijakan di lingkungan BPOM.
Dalam forum ini, terdapat 7 hasil analisis kebijakan tahun 2024 yang didiseminasikan dalam bentuk presentasi oral dan video. Sebanyak 4 kajian didiseminasikan secara presentasi oral, yaitu Analisis Efektivitas Implementasi Regionalisasi Laboratorium Tahun 2024, Analisis Data Kasus Keracunan Obat dan Makanan Tahun 2024, Evaluasi Implementasi Indonesia Risk Assessment Center (INARAC) for Food Safety, serta Evaluasi Implementasi Pedoman Sampling dan Pengujian Tahun 2024 dan Penyusunan Pedoman Sampling Obat dan Makanan Tahun 2025.
Sedangkan kajian lainnya akan dipublikasikan dengan penayangan video di media sosial PUSAKOM dan e-kiosk yang terdapat di gedung-gedung di lingkungan BPOM, yaitu Pengukuran Indeks Kesadaran Masyarakat terhadap Obat dan Makanan yang Aman dan Bermutu, Pengukuran Indeks Kepuasan Masyarakat atas Kinerja Pengawasan Obat dan Makanan Tahun 2024, Pengukuran Indeks Kepatuhan (Compliance Index) Pelaku Usaha di Bidang Obat dan Makanan Tahun 2024, dan Pengukuran Indeks Kepuasan Pelaku Usaha (IKEPU) Terhadap Pemberian Bimbingan dan Pembinaan Pengawasan Obat dan Makanan Tahun 2024.
“Kolaborasi lintas sektor dan mitra strategis dalam kerangka Academia-Business-Government (ABG) menjadi kunci untuk menghasilkan analisis kebijakan berkualitas dan bermanfaat nyata bagi BPOM serta masyarakat,” tutur Kepala BPOM lagi.
Selain forum diseminasi, pada kesempatan ini dipamerkan poster tour yang menampilkan 10 karya terbaik dari lomba penyusunan briefing note yang diikuti oleh pejabat fungsional Analis Kebijakan (JFAK) di lingkungan BPOM Pusat. Lomba ini merupakan tindak lanjut dari Rapat Koordinasi dan Workshop Penulisan Briefing Note untuk Media Advokasi Kebijakan. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Pusakom, sebagai Unit Pembina JFAK, pada 18 Februari 2025. Kegiatan bertujuan unruk meningkatkan kompetensi pejabat fungsional dalam menghasilkan produk kebijakan yang berkualitas serta memperkuat kapasitas advokasi kebijakan.
Sebagai bentuk apresiasi, sertifikat penghargaan diberikan kepada 5 briefing note terbaik, yaitu Perkuatan Regionalisasi Laboratorium BPOM Melalui Perubahan Pola Klasterisasi oleh Fairuz Murti dan Kenya Lintang Wienantu (Pusakom); Paparan Nitrit Berlebih yang Berasal dari Pangan pada Anak oleh Novi Pusparini dan Sri Nurhayati (Pusakom); Kesiapsiagaan BPOM Menghadapi Varian Baru COVID-19 oleh Adinda (Pusakom); Penguatan Kebijakan Standar Keamanan Pangan di Sarana Produksi IRTP oleh Dara Lextiany Putri (Direktorat Pengawasan Produksi Pangan Olahan); serta Langkah Awal Antisipasi Kelangkaan Cangkang Kapsul di Indonesia oleh Ratna Wulansari dan Nesha PRM Sitompul (Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat).
“Saya meminta agar forum ini bukan sekadar sarana penyampaian hasil analisis kebijakan, melainkan wadah komunikasi dua arah antara pelaksana dan penerima hasil analisis kebijakan,” harap Taruna Ikrar.
BPOM terus mendorong penyelenggaraan kompetisi ilmiah sebagai sarana untuk menumbuhkan inovasi, mendorong kreativitas, dan meningkatkan kompetensi analis kebijakan. Berbagai prakarsa dan upaya dalam menghasilkan karya ilmiah secara berkelanjutan akan terus didukung sebagai bentuk kontribusi nyata pegawai dalam membangun serta menjaga ekosistem sains di lingkungan BPOM.
Di akhir acara, Kepala BPOM melakukan penyematan pin dan pemberian penghargaan kepada Kepala Pusat Pengembangan Pengujian Obat dan Makanan Nasional Susan Gracia Arpan yang telah memasuki masa purnabakti. Penghargaan ini menjadi simbolis bentuk penghargaan atas pengabdian dan dedikasinya selama bertugas di BPOM. (HM-Devi)
Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
