BPOM dan PSI Selenggarakan Workshop Penguatan Kapasitas Perangi Obat Palsu

22-09-2025 Kerjasama dan Humas Dilihat 863 kali Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

Jakarta — BPOM bersama Pharmaceutical Security Institute (PSI) menggelar workshop internasional bertajuk “Beyond Borders: Tackling Emerging Threats of Counterfeit Medicines in Public Health” dengan tema “Combating Counterfeit and Diverted Pharmaceutical Product”. Kegiatan ini berlangsung secara hybrid di Auditorium Lantai 8 Gedung Merah Putih Kantor BPOM Pusat pada 22–23 September 2025. Workshop diikuti oleh 70 peserta luring yang terdiri dari pegawai BPOM di unit kerja pusat dan unit pelaksana teknis (UPT), Biro Koordinator dan Pengawasan Penyidik Pegawai Negeri Sipil Badan Reserse Kriminal Kepolisian RI (Korwas PPNS Bareskrim POLRI), serta Direktorat Tindak Pidana Terhadap Orang dan Harta Benda Kejaksaan Agung RI.

Acara ini menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang, mulai dari BPOM, industri farmasi global, Interpol, hingga pelaku marketplace seperti Shopee Singapore dan Halodoc Indonesia. Perwakilan perusahaan farmasi internasional seperti AstraZeneca, Eli Lilly, Novo Nordisk, Johnson & Johnson, Takeda Pharmaceuticals, Novartis, dan BeOne Pharma turut memberikan paparan mengenai tantangan dan strategi penanggulangan peredaran obat palsu di tingkat global. Kehadiran para pemangku kepentingan lintas sektor ini menjadi bukti bahwa penanganan masalah obat palsu memerlukan sinergi antara regulator, penegak hukum, industri, dan penyedia layanan distribusi.

Workshop ini merupakan tindak lanjut dari kerja sama BPOM–PSI yang sebelumnya didiskusikan pada April 2025 lalu, yakni mencakup penguatan kolaborasi, penyelenggaraan pertemuan dan seminar bersama. Pada Mei 2025, Kepala BPOM Taruna Ikrar melakukan pertemuan langsung dengan Presiden & CEO PSI Todd Ratcliffe di Amerika Serikat untuk membahas langkah strategis memerangi obat palsu, termasuk pertukaran data intelijen, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, dan pengembangan mekanisme deteksi dini.

Pada Juni 2025, BPOM juga telah menyelenggarakan workshop daring bersama PSI bertajuk “Combating Counterfeit and Diverted Pharmaceutical Products in Indonesia—Industry Case Studies”. Acara tersebut menjadi wadah yang berharga untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman di antara para regulator, pelaku industri, dan pemangku kepentingan utama lainnya.

PSI, yang berbasis di Vienna, Virginia, Amerika Serikat, adalah asosiasi perusahaan farmasi global yang berdiri sejak 2002 di Washington, D.C. dengan misi melindungi kesehatan masyarakat dari ancaman obat palsu dan ilegal. Organisasi ini bekerja sama dengan lebih dari 40 produsen farmasi dunia dan pada 2023, mencatat lebih dari 6.800 insiden kejahatan farmasi secara global. Data tersebut menunjukkan bahwa peredaran obat palsu bukan hanya masalah lokal, melainkan ancaman lintas negara yang memerlukan respons cepat dan terkoordinasi.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan di negara berpenghasilan rendah dan menengah masih beredar obat palsu atau bermutu di bawah standar. Produk-produk ini beredar tidak hanya melalui pasar tradisional, tetapi juga semakin banyak melalui platform digital dan penjualan daring, sehingga membuatnya lebih sulit untuk diawasi dan dikendalikan. Melalui kegiatan ini, BPOM menegaskan komitmennya untuk memperkuat kolaborasi internasional, memperluas jaringan kerja sama, dan mengambil langkah preventif yang lebih efektif dalam melindungi masyarakat Indonesia dari bahaya produk farmasi palsu dan ilegal.

“Saya berharap workshop ini dapat menjadi wadah bagi semua pihak yang terlibat untuk merumuskan sistem yang mampu memperkuat upaya kita dalam melindungi masyarakat dari produk palsu, produk di bawah standar mutu, bahkan produk yang berpotensi membahayakan publik,” ungkap Kepala BPOM Taruna Ikrar. Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya agar workshop ini menghasilkan rekomendasi yang kuat, konsisten, serta dapat diimplementasikan secara nyata.

Dalam sambutannya, Regional Director Asia Pacific Region PSI Ramesh Raj Kishore menegaskan bahwa workshop ini bukan sekadar pertemuan teknis, melainkan kelanjutan dari upaya serius yang telah dimulai sejak tahun lalu. “Tujuannya sederhana, yaitu menyelamatkan nyawa. Jika kejahatan dapat bekerja bersama-sama, mengapa kita tidak?” ujarnya.

Ia menekankan bahwa dua hari workshop ini hanyalah sebuah awal karena hasil yang dicapai akan terus berkelanjutan dan bahkan dapat tersebar ke berbagai negara. Menurutnya, BPOM akan menjadi yang pertama memimpin kolaborasi bersama industri farmasi, asosiasi, dan para pemangku kepentingan lain dengan satu tujuan utama, keselamatan pasien dan perlindungan nyawa. “Saya berterima kasih kepada semua pihak yang berpartisipasi di sini dan saya menantikan workshop yang menarik serta bermanfaat,” tambahnya.

Dengan adanya forum seperti ini, diharapkan terjalin pertukaran informasi yang lebih intensif, peningkatan kapasitas teknis, serta penguatan jejaring kerja sama yang mampu menjawab tantangan peredaran obat palsu di era perdagangan bebas dan perkembangan teknologi digital. BPOM optimistis bahwa sinergi yang terbangun akan menjadi fondasi kuat dalam melindungi kesehatan masyarakat di Indonesia. (HM-Hendriq)

Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

 

Berita Terkait

Bagikan:

Klik disini untuk chat via WhatsApp!+
Sarana